Hari yang Telah Usang
Dia
adalah wanita tua yang berumur 95 tahun, sedang terbaring di tempat tidurnya,
karena hanya itulah hal yang bisa dia lakukan. Selain minta di gendong atau
dipapah ke kursi roda nya, dia hanya terdiam dan terdiam. Dia yang kumaksud
adalah beliau yang kupanggil dengan sebutan nenek, lebih tepatnya beliau adalah
Ibu dari ayah ku sendiri.
Mungkin saat ini aku bersamanya,bercanda,tertawa,tersenyum
bersama,atau mungkin saat ini aku membentaknya,mencaci maki dirinya,mungkin juga
saat ini aku mampu memeluknya,mampu meraba tubuhnya yang sudah tua dan renta, mungkin
saat ini aku masih bisa melihat senyuman yang terlukis polos darinya, sinar
binar dari matanya yang terkadang menatap dengan tatapan kosong, tapi apakah aku
tahu besok atau 1 jam lagi aku bisa melihat semua itu?
Dulu ,ya dulu aku
sering mengatakan nenek itu cerewet,beliau selalu melontarkan pertanyaan yang
membuat aku terkadang kesal tanpa alasan, beliau sering menayakan hal yang sama
padaku berulang kali, terkadang memintaku memijit tubuhnya setiap hari, setiap
kali beliau melihatku. Semua hal diprotes oleh beliau, dan terkadang beliau
menggerutu sendiri, entah pada siapa dia merasa kesal.
Namun, terkadang aku merasa
kasihan pada beliau. Nenek punya sepuluh orang anak, dan ayahku adalah anaknya
yang keenam. Anaknya yang sembilan lagi tinggal di daerah kota yang berbeda
provinsi dengannya. Tepatnya sejak sepuluh tahun yang lalu, Nenek harus berada
dikursi roda karena sudah tua dan lumpuh. Dan begitulah tahun demi tahun dilalui
oleh beliau. Ibuku adalah menantunya yang cukup sabar merawatnya, walaupun
kadang-kadang Ibu mau memarahinya karena merasa kesal padanya.
Sejak beliau harus duduk dikursi
roda, sudah jarang sekali anak-anaknya memberikan kabar padanya, bahkan dihari
raya Natal pun, beliau jarang sekali mendapatkan ucapan selamat dari
anak-anaknya. Tapi walaupun demikian, Nenek terkesan cuek saja seakan-akan
beliau tidak ingat kalau beliau punya anak-anak , menantu dan cucunya yang
lain, selain kami yang tinggal bersamanya. Bahkan, terkadang jika ada paket
atau kiriman barang dari anaknya, beliau lupa dan bahkan bertanya siapakah yang
bernama sipengirim itu, karena beliau terkadang sampai lupa nama anak-anaknya
sendiri.
Sabtu, 16 maret 2013 sekitar
pukul enam sore, baliau mengakhiri hidupnya dengan damai. Suatu hal yang tak
pernah kuduga, dan tidak pernah terpikir olehku beliau akan pergi saat itu.
Setelah kuingat tadi siang harinya sebelum beliau meninggal, memang ada hal
yang janggal. Beliau sangat lahap sekali memakan makanannya yang sudah ibu
siapkan, dan tidak biasanya beliau begitu lahap memakan makanannya seperti itu.
Setelah menangisinya, ayah
segera mengabarkan pada semua keluarga. Ibu segera memandikan Nenek dan
memakaikannya pakaian yang begitu bagus, mendandani beliau sebegitu cantiknya.
Beliau memang orang yang cantik, dan bahkan setelah meninggalpun diusianya yang
begitu tua, beliau masih tetap terlihat cantik. Nenek meninggal dengan
tersenyum, seakan-akan sudah pasrah untuk mengakhiri hidupnya yang begitu
melelahkan ini. Sembilan puluh lima tahun beliau berjuang hidup didunia
ini,merasakan manis, asam, pahit dan sengitnya hidup ini. Beliau juga
membesarkan dan merawat sepuluh orang anak dengan penuh peluh dan kasih sayang.
Tapi, sangat menyedihkan, setelah semua yang Nenek lakukan untuk anak-anaknya,
bahkan di usia tuanya pun beliau kerap sekali terlupakan oleh anak-anaknya.
Terkadang
terpikir olehku betapa menyedihkannya hidup ini, membayangkan kalau aku juga
sudah tua nanti, apakah aku juga akan terlupakan seperti Nenek ini? Ah,
khayalanku membuat aku meneteskan air mata, betapa sedihnya menjadi tua. Dahulu
beliau berjuang untuk anak-anaknya, berharap anaknya bisa mendapatkan kehidupan
yang lebih baik darinya, tapi setelah semua anak-anaknya memiliki rumahtangga
sendiri, beliau seakan-akan sudah tidak dipedulikan lagi, dan dianggap hanya
sebagai orangtua yang menyusahkan saja, atau orangtua yang hanya sebatas simbol
saja, tanpa perhatian, dan kasih sayang.
Karena
kami adalah keluarga yang terlahir dengan adat Batak yang kental, maka upacara
adat pemakaman Nenek berlangsung hampir satu minggu setelah Beliau
menghembuskan napas terakhirnya. Aku mengamati semuanya, aku memandangi setiap
orang dari mereka anak-anaknya yang datang dan menangisi jenazah beliau,
terisak-isak mengakui semua kesalahannya. Hahh.. memang dasar dunia kejam. Apa
gunanya berbuat seperti itu setelah dia tiada? Apa artinya semua air mata itu
setelah dia tidak mampu melihat dan mendengarnya lagi?
Teringat
olehku saat perdebatan beberapa tahun yang lalu, saat ibu jatuh sakit. Karena
saat itu Ibu harus menjalani masa istirahat, maka nenek tidak terawat lagi
dengan baik. Satupun diantara mereka tidak ada yang dapat diandalkan, bahkan
untuk merawat Ibu mereka sendiri, mereka melontarkan beberapa alasan yang
terkesan seakan-akan menolak untuk merawat Nenek. Tapi saat itu Nenek tidak
tahu apa-apa, dia tidak tahu kalau anak-anaknya terkesan tidak menginginkannya
lagi, nenek hanya bisa duduk dikursi roda, terdiam tanpa dosa, dan kembali berbaring
di tempat tidurnya yang sudah tua.
Terkadang
juga aku berpikir, apakah aku juga akan melakukan hal yang sama pada Ibuku
suatu saat nanti kalau aku sudah berhasil nanti, dan apakah aku hanya sibuk
memikirkan rumah tanggaku nantinya, aku hanya bisa terdiam menghayati kisah
Nenek ku yang begitu menyedihkan ini. Hidup juga tak ubahnya seperti barang,
kalau barang itu masih baru dan masih bagus, orang-orang akan menyayanginya,
tapi kalau barang itu sudah tua dan usang, maka orang-orang akan melupakannya. Oh,
betapa sedihnya menjadi yang terlupakan.
Dihari
upacara pemakaman yang terakhir, semua anggota keluarga menari adat dengan
riangnya, tidak ada lagi tangis dan air mata, semua merasa bahagisa karena
beliau sudah tenang di alam sana. Tapi, apakah alasan dari semua ini? Untuk apa
semua tangis mereka ini? Untuk apa semua acara pemakaman yang megah ini? Kalau
selama hidupnya saja, mereka tidak pernah peduli pada keadaan nenek. Pernahkah
mereka berpikir sekilas saja, apakah Ibu mereka sudah makan? Apa yang sedang
dilakukan Ibu, apakah Ibu baik-baik saja, atau apakah Ibu sedang tertawa atau
menangis? Aku rasa itu hal yang jarang sekali bahkan tidak pernah terpikirkan
oleh mereka.
Kini
sudah satu tahun setelah berpulangnya beliau, kalau mengingat-ingat kembali
saat beliau masih ada terkadang membuatku tidak sadar kalau aku meneteskan air
mata. Apalagi saat aku pulang sekolah, tidak ada lagi Nenek yang selalu
menanyaiku dan memintai tolong padaku untuk melakukan sesuatu lagi. Namun
sekarang aku menyesal,kata-kata itu yang sangat aku rindukan, hari-hari dimana
aku memiliki kenangan dengannya, telinga ini sudah terlalu rindu, tak ada lagi
yang memanggil-manggil aku, semua itu telah hilang, kini tinggallah kehampaan, sunyi,
senyap, dan terasa sepi. Semua hari-hari itu menjadi suatu hal untuk dikenang
saja, ibarat sebuah benda kesayangan
kita yang telah usang, tapi kita masih tetap menyimpannya, karena kita sangat
menyayanginya.
Kini aku hanya bisa melihat
sebuah gundukan tanah, sepasang batu nisan beliau dan kekasihnya yang telah
pergi lebih awal darinya, sebuah taburan bunga, dan sekarang ini mungkin hanya ada
daun-daun yang kering, dan tanah yang mengering serta sebuah kenangan yang
tidak akan pernah hilang atau terlupakan saat bersama beliau. Tapi, kini aku ikhlas
dengan semua itu, aku sadar kematian itu selalu datang, dan yang hidup juga pasti
akan mati pada saatnya.
Dan untuk itu, aku hanya bisa
berpesan bagi siapa saja yang masih memiliki kesempatan untuk memiliki
orang-orang yang kamu sayangi, maka
sayangilah dia dan selalu lah sayang padanya hingga suatu saat nanti dia tidak
ada lagi bersamamu.
.jpg)