Selasa, 31 Maret 2015

Cerita Sedih

Hari yang Telah Usang

                Dia adalah wanita tua yang berumur 95 tahun, sedang terbaring di tempat tidurnya, karena hanya itulah hal yang bisa dia lakukan. Selain minta di gendong atau dipapah ke kursi roda nya, dia hanya terdiam dan terdiam. Dia yang kumaksud adalah beliau yang kupanggil dengan sebutan nenek, lebih tepatnya beliau adalah Ibu dari ayah ku sendiri.
                 Mungkin saat ini aku  bersamanya,bercanda,tertawa,tersenyum bersama,atau mungkin saat ini aku membentaknya,mencaci maki dirinya,mungkin juga saat ini aku mampu memeluknya,mampu meraba tubuhnya yang sudah tua dan renta, mungkin saat ini aku masih bisa melihat senyuman yang terlukis polos darinya, sinar binar dari matanya yang terkadang menatap dengan tatapan kosong, tapi apakah aku tahu besok atau 1 jam lagi aku bisa melihat semua itu?
                Dulu ,ya dulu aku sering mengatakan nenek itu cerewet,beliau selalu melontarkan pertanyaan yang membuat aku terkadang kesal tanpa alasan, beliau sering menayakan hal yang sama padaku berulang kali, terkadang memintaku memijit tubuhnya setiap hari, setiap kali beliau melihatku. Semua hal diprotes oleh beliau, dan terkadang beliau menggerutu sendiri, entah pada siapa dia merasa kesal.
                Namun, terkadang aku merasa kasihan pada beliau. Nenek punya sepuluh orang anak, dan ayahku adalah anaknya yang keenam. Anaknya yang sembilan lagi tinggal di daerah kota yang berbeda provinsi dengannya. Tepatnya sejak sepuluh tahun yang lalu, Nenek harus berada dikursi roda karena sudah tua dan lumpuh. Dan begitulah tahun demi tahun dilalui oleh beliau. Ibuku adalah menantunya yang cukup sabar merawatnya, walaupun kadang-kadang Ibu mau memarahinya karena merasa kesal padanya.
                Sejak beliau harus duduk dikursi roda, sudah jarang sekali anak-anaknya memberikan kabar padanya, bahkan dihari raya Natal pun, beliau jarang sekali mendapatkan ucapan selamat dari anak-anaknya. Tapi walaupun demikian, Nenek terkesan cuek saja seakan-akan beliau tidak ingat kalau beliau punya anak-anak , menantu dan cucunya yang lain, selain kami yang tinggal bersamanya. Bahkan, terkadang jika ada paket atau kiriman barang dari anaknya, beliau lupa dan bahkan bertanya siapakah yang bernama sipengirim itu, karena beliau terkadang sampai lupa nama anak-anaknya sendiri.
                Sabtu, 16 maret 2013 sekitar pukul enam sore, baliau mengakhiri hidupnya dengan damai. Suatu hal yang tak pernah kuduga, dan tidak pernah terpikir olehku beliau akan pergi saat itu. Setelah kuingat tadi siang harinya sebelum beliau meninggal, memang ada hal yang janggal. Beliau sangat lahap sekali memakan makanannya yang sudah ibu siapkan, dan tidak biasanya beliau begitu lahap memakan makanannya seperti itu.
                Setelah menangisinya, ayah segera mengabarkan pada semua keluarga. Ibu segera memandikan Nenek dan memakaikannya pakaian yang begitu bagus, mendandani beliau sebegitu cantiknya. Beliau memang orang yang cantik, dan bahkan setelah meninggalpun diusianya yang begitu tua, beliau masih tetap terlihat cantik. Nenek meninggal dengan tersenyum, seakan-akan sudah pasrah untuk mengakhiri hidupnya yang begitu melelahkan ini. Sembilan puluh lima tahun beliau berjuang hidup didunia ini,merasakan manis, asam, pahit dan sengitnya hidup ini. Beliau juga membesarkan dan merawat sepuluh orang anak dengan penuh peluh dan kasih sayang. Tapi, sangat menyedihkan, setelah semua yang Nenek lakukan untuk anak-anaknya, bahkan di usia tuanya pun beliau kerap sekali terlupakan oleh anak-anaknya.
                Terkadang terpikir olehku betapa menyedihkannya hidup ini, membayangkan kalau aku juga sudah tua nanti, apakah aku juga akan terlupakan seperti Nenek ini? Ah, khayalanku membuat aku meneteskan air mata, betapa sedihnya menjadi tua. Dahulu beliau berjuang untuk anak-anaknya, berharap anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik darinya, tapi setelah semua anak-anaknya memiliki rumahtangga sendiri, beliau seakan-akan sudah tidak dipedulikan lagi, dan dianggap hanya sebagai orangtua yang menyusahkan saja, atau orangtua yang hanya sebatas simbol saja, tanpa perhatian, dan kasih sayang.
                Karena kami adalah keluarga yang terlahir dengan adat Batak yang kental, maka upacara adat pemakaman Nenek berlangsung hampir satu minggu setelah Beliau menghembuskan napas terakhirnya. Aku mengamati semuanya, aku memandangi setiap orang dari mereka anak-anaknya yang datang dan menangisi jenazah beliau, terisak-isak mengakui semua kesalahannya. Hahh.. memang dasar dunia kejam. Apa gunanya berbuat seperti itu setelah dia tiada? Apa artinya semua air mata itu setelah dia tidak mampu melihat dan mendengarnya lagi?
                Teringat olehku saat perdebatan beberapa tahun yang lalu, saat ibu jatuh sakit. Karena saat itu Ibu harus menjalani masa istirahat, maka nenek tidak terawat lagi dengan baik. Satupun diantara mereka tidak ada yang dapat diandalkan, bahkan untuk merawat Ibu mereka sendiri, mereka melontarkan beberapa alasan yang terkesan seakan-akan menolak untuk merawat Nenek. Tapi saat itu Nenek tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu kalau anak-anaknya terkesan tidak menginginkannya lagi, nenek hanya bisa duduk dikursi roda, terdiam tanpa dosa, dan kembali berbaring di tempat tidurnya yang sudah tua.
                Terkadang juga aku berpikir, apakah aku juga akan melakukan hal yang sama pada Ibuku suatu saat nanti kalau aku sudah berhasil nanti, dan apakah aku hanya sibuk memikirkan rumah tanggaku nantinya, aku hanya bisa terdiam menghayati kisah Nenek ku yang begitu menyedihkan ini. Hidup juga tak ubahnya seperti barang, kalau barang itu masih baru dan masih bagus, orang-orang akan menyayanginya, tapi kalau barang itu sudah tua dan usang, maka orang-orang akan melupakannya. Oh, betapa sedihnya menjadi yang terlupakan.
                Dihari upacara pemakaman yang terakhir, semua anggota keluarga menari adat dengan riangnya, tidak ada lagi tangis dan air mata, semua merasa bahagisa karena beliau sudah tenang di alam sana. Tapi, apakah alasan dari semua ini? Untuk apa semua tangis mereka ini? Untuk apa semua acara pemakaman yang megah ini? Kalau selama hidupnya saja, mereka tidak pernah peduli pada keadaan nenek. Pernahkah mereka berpikir sekilas saja, apakah Ibu mereka sudah makan? Apa yang sedang dilakukan Ibu, apakah Ibu baik-baik saja, atau apakah Ibu sedang tertawa atau menangis? Aku rasa itu hal yang jarang sekali bahkan tidak pernah terpikirkan oleh mereka.
                Kini sudah satu tahun setelah berpulangnya beliau, kalau mengingat-ingat kembali saat beliau masih ada terkadang membuatku tidak sadar kalau aku meneteskan air mata. Apalagi saat aku pulang sekolah, tidak ada lagi Nenek yang selalu menanyaiku dan memintai tolong padaku untuk melakukan sesuatu lagi.  Namun sekarang aku menyesal,kata-kata itu yang sangat aku rindukan, hari-hari dimana aku memiliki kenangan dengannya, telinga ini sudah terlalu rindu, tak ada lagi yang memanggil-manggil aku, semua itu telah hilang, kini tinggallah kehampaan, sunyi, senyap, dan terasa sepi. Semua hari-hari itu menjadi suatu hal untuk dikenang saja,  ibarat sebuah benda kesayangan kita yang telah usang, tapi kita masih tetap menyimpannya, karena kita sangat menyayanginya.
                Kini aku hanya bisa melihat sebuah gundukan tanah, sepasang batu nisan beliau dan kekasihnya yang telah pergi lebih awal darinya, sebuah taburan bunga, dan sekarang ini mungkin hanya ada daun-daun yang kering, dan tanah yang mengering serta sebuah kenangan yang tidak akan pernah hilang atau terlupakan saat bersama beliau. Tapi, kini aku ikhlas dengan semua itu, aku sadar kematian itu selalu datang, dan yang hidup juga pasti akan mati pada saatnya.

                Dan untuk itu, aku hanya bisa berpesan bagi siapa saja yang masih memiliki kesempatan untuk memiliki orang-orang yang kamu sayangi,  maka sayangilah dia dan selalu lah sayang padanya hingga suatu saat nanti dia tidak ada lagi bersamamu.